Download Logo

Format PDF
Format CDR (Corel Draw)
(Klik kanan, save target as / save link as)

Kirimkan tulisan Anda

Agar blog Dolan ke Solo semakin penuh warna dan terus ter-update, maka blog Dolan ke Solo kini memberi kesempatan kepada Anda ikut berkontribusi.
Anda bisa mengirimkan artikel atau esai foto seputar pariwisata di Solo Raya ( Subosukawonosraten ) melalui email kepada admin.
Kami tunggu tulisan Anda.

email admin

Ngenet di Citywalk


Pemandangan di Citywalk hari Rabu kemarin (30/7) lain dari biasanya, ratusan orang terlihat asyik di depan laptopnya masing-masing. Melalui acara Browsing Internet @ Citywalk, para peserta berusaha mencetak rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) dengan peserta browsing internet terbanyak, yakni 486 orang.

Sejak pukul 3 sore para peserta sudah mempersiapkan diri, dan menempati meja-meja yang telah disediakan. Khusus untuk acara ini, Telkom memasang sekitar 50 titik hotspot yang tersebar di area Citywalk, mulai dari RS DKT hingga Megaland.

Acara ini diselenggarakan oleh Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo), dengan dukungan dari Pemkot Surakarta dan Telkom Speedy sebagai penyedia akses internet. Ketua Apkomindo, Ir. Andoko, berharap tahun 2010 nanti Solo dapat menjadi cybercity, hotspot dapat diakses di seluruh penjuru kota, sehingga informasi pun dapat didapat dengan mudah.

Semar belajar internet

Republik Aeng-Aeng juga turut serta dalam acara ini. Mayor Haristanto dari Republik Aeng-Aeng mendatangkan hik/wedangan dan becak di area Citywalk. Menurutnya itu adalah simbol-simbol, bahwa browsing internet bisa dilakukan di mana saja, tidak harus di tempat tertentu, seperti café. Atraksi tari Kuda Lumping dan tokoh Punakawan turut meramaikan suasana pencatatan rekor MURI ini.

Di hari-hari biasa pun, sebenarnya Anda juga bisa menikmati akses internet di Citywalk. Tapi fasilitas hotspot tersebut baru aktif pada pukul 3 sore, dan tidak disediakan colokan listrik, jadi pastikan baterai laptop Anda sudah terisi penuh.



Anak-anak masa kini sudah melek teknologi



Ada yang ngenet di atas becak, ada juga yang di atas pohon


© Naskah dan foto oleh Dony Alfan

Thursday, July 31, 2008 |

Wedangan Mbah Loso Karanganyar

Cita rasa teh yang nJawani

Salah satu yang paling khas di Solo adalah wedangan-nya, di Jogja disebut angkringan, keduanya sama, tiada beda. Di setiap sudut kota, mulai petang Anda dapat dengan mudah menemuinya, semua wedangan itu memiliki pelanggan setia masing-masing.

Wedangan yang diangkat dalam blog ‘Dolan ke Solo’ kali ini bukanlah wedangan yang terletak di Kota Solo, tapi di daerah tetangganya, Karanganyar. Pemilik wedangan ini bernama Mbah Loso, karena itulah wedangan ini kerap disebut oleh para pelanggan dengan sebutan wedangan Mbah Loso.

Makanan yang disajikan tidak berbeda jauh dengan menu wedangan kebanyakan, sego kucing (nasi sekepal dengan lauk bandeng secuil beserta sambalnya) dan berbagai macam gorengan adalah makanan wajib dari wedangan. Yang membuat wedangan mbah Loso begitu spesial adalah cita rasa tehnya yang sangat nJawani, ginastel, dari kata legi (manis), panas, dan kentel (kental).

Ya, di daerah Jawa Tengah, terutama Solo dan sekitarnya, jika Anda memesan teh, maka secara otomatis Anda akan mendapatkan teh manis. Semua wedangan memang tak pelit gula, di wedangan Mbah Loso sendiri, satu gelas wedang teh menggunakan gula sebanyak 3-4 sendok makan! Tanpa diaduk pun rasa manisnya sudah kentara.

Mbah Loso tidak pernah menutup-nutupi atau merahasiakan racikan tehnya yang nikmat luar biasa itu. Dia menggunakan tiga teh yang berbeda, lalu dicampur menjadi satu. Mbah Loso menamai ‘jurus’ tiga campuran tehnya dengan nama “Pak Djenggot balapan nyapu”. Seorang kawan pernah mencoba untuk ‘membajak’ teh buatan Mbah Loso, kawan saya itu ‘kulakan’ tiga merek teh tadi di Pasar Gede, lalu bagaimana rasa teh hasil bajakannya? Yah, rupanya resep memang mudah ditiru, tapi cita rasa tetap tak bisa ditiru

Mbah Loso selalu membuat seduhan teh dalam keadaan fresh, karena baru disiapkan saat ada pesanan. 2-3 jumput daun teh campuran tadi ditaruh dalam cangkir berbahan logam, lalu diseduh dengan air panas, dan ditunggu beberapa menit. Air yang menjadi bahan baku untuk membuat wedang pun tak sembarangan, air yang digunakan adalah air tanah, bukan PAM. Semua wedangan juga menggunakan tungku arang untuk memasak air, bukan kompor gas atau minyak tanah. Sedangkan untuk gulanya, Mbah Loso menggunakan gula produksi Pabrik Gula Tasikmadu Karanganyar, yang merupakan peninggalan jaman Belanda tapi masih beroperasi hingga sekarang. Hal-hal tersebut tidak bisa dianggap remeh, karena ikut menentukan cita rasa teh itu sendiri.

Wedang teh buatan Mbah Loso disajikan dalam keadaan yang sangat panas, jadi kita harus menunggunya beberapa saat agar lebih hangat dan bisa masuk ke tenggorokan dengan aman dan nyaman. Sensasi rasa sepat di lidah yang beradu dengan rasa manis, lalu ditambah dengan sensasi panas di tenggorokan menjadikan saya susah melupakan cita rasanya, dan membuat saya kangen untuk kembali. Beberapa kawan dan kerabat yang saya ajak ke sana pun mengamini. Saya tidak bermaksud untuk berpromosi, tapi ingin berbagi, itu saja.

Mbah Loso

Wedangan Mbah Loso sudah berdiri sekitar 50 tahun yang lalu, dirintis oleh suami dari Mbah Loso. Suaminya sudah berumur 80 tahun, sedangkan Mbah Loso sendiri sudah berumur 70an tahun, di usianya yang begitu lanjut, dia masih tampak sehat, dan setiap malam selalu setia membuatkan teh bagi para pelanggannya. Jaman baheula dulu, saat alat transportasi belum maju seperti sekarang, wedangan Mbah Loso biasa menjadi tempat mampir para petani sayuran dari Tawangmangu yang akan setor hasil panen ke pasar-pasar di Solo. Letaknya yang berada di jalan raya Karanganyar-Solo memang menjadi tempat yang strategis untuk sejenak melepas lelah. Wedangan Mbah Loso berada sekitar 200 meter di sebelah barat Alun-Alun dan Kantor Bupati Karanganyar.

Seandainya saja internet bisa menyajikan rasa dan aroma, ingin rasanya saya ‘meng-upload’ cita rasa teh Mbah Loso di internet :), tapi rupanya teknologi sekarang memang belum sampai kesitu. Maka tak ada cara lain bagi saya, selain mengundang Anda semuanya untuk sowan dan pinarak di wedangan sederhana milik Mbah Loso, menyeruput cita rasa tehnya yang luar biasa dan tak mudah dilupa, sembari berbagi cerita…

Tuesday, July 29, 2008 |

Berburu Jajanan di Pasar Gede


Pasar Gede yang dikenal sebagai salah satu pasar tradisional tertua di Solo, juga memiliki sejumlah jajanan khas yang patut untuk Anda coba dan nikmati.

Es dawet Pasar Gede misalnya, minuman segar ini sudah lumayan terkenal. Tempat jualannya dapat dengan mudah ditemui jika Anda masuk dari pintu pasar sebelah utara. Selain dawet, minuman ini juga berisi telasih, jenang sumsum, ketan hitam, dan tape ketan. Jadi, selain menyegarkan, minuman ini sekaligus bisa mengenyangkan.

Selain es dawet, ada gempol pleret, minuman dari santan ini memiliki rasa yang unik, perpaduan antara manis dan gurih, di dalamnya terdapat ‘bola bola’ kecil yang terbuat dari beras. Penjual gempol pleret bisa ditemui di samping pintu utama Pasar Gede. Bagi Anda yang mungkin kurang nyaman blusukan masuk pasar tradisional, tak perlu risau, karena es dawet dan gempol pleret Pasar Gede telah membuka cabangnya di Langen Bogan.

Untuk makanannya ada lenjongan, lenjongan adalah sejenis jajanan pasar komplit, terdiri dari klepon, gethuk, cenil, gendar, tiwul, dan lain lain. Lalu diatasnya ditaburi parutan kelapa, dan Anda bisa memilih gulanya, ada gula halus, maupun gula jawa yang sudah dicairkan. Untuk lenjongan dengan isi komplit, Anda hanya perlu merogoh kocek 3000 rupiah saja, cukup murah.

Di Pasar ini kita masih bisa menemui cabuk rambak, makanan khas asli Solo yang jarang ada di sembarang tempat. Terdiri dari ketupat yang diiris tipis lalu diberi sambal yang terbuat dari kelapa parut, kemiri, wijen, daun jeruk dan lombok. Tambah nikmat jika disantap dengan karak (kerupuk nasi).

Untuk Anda pecinta kopi, di Pasar Gede terdapat satu toko kopi, namanya Toko Podjok. Toko Podjok berdiri sejak sekitar tahun 1945, dan sekarang ini sudah dikelola oleh generasi ke-3. Toko ini menyediakan kopi dalam bentuk biji, maupun giling. Ada robusta dan arabika, per ons-nya dijual 3000-3600 rupiah. Toko Podjok juga memproduksi kopi dalam kemasan, yakni kopi bubuk tjap Angkring, merek ini sudah cukup terkenal di Solo dan sekitarnya.

Ya, untuk menemukan jajanan yang enak dan murah di Solo, kadang kita musti blusukan masuk ke dalam pasar tradisional. Jangan sampai pasar-pasar tradisional itu tergusur oleh pusat-pusat perbelanjaan modern.

© Naskah dan foto oleh Dony Alfan

Thursday, June 12, 2008 |

WAYANG ORANG SRIWEDARI

Selain surga bagi wisata kuliner, sebagai kota budaya kota Solo tentu saja juga memiliki beragam stok wisata budaya. Salah satu wisata budaya di kota Solo yang dapat dinikmati setiap malam adalah pertunjukan kesenian wayang orang. Anda tinggal mengunjungi Gedung Wayang Orang yang berada di komplek Taman Hiburan Rakyat Solo. Tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup siapkan uang Rp.3000,00 maka anda sudah bisa menyaksikan totalitas para pemain dalam memerankan tokoh-tokoh pewayangan. Pertunjukan dimulai pukul 20.30 WIB sampai selesai. Durasi pentas wayang orang ini tergantung dengan lakon apa yang sedang dimainkan. Jangan khawatir soal perut anda, karena di seputar gedung pertunjukan anda juga bisa membeli cemilan ndeso macam kacang godok, telo godok, gedang godok, dan lain-lain untuk menemani anda menikmati pertunjukan. Di dalam gedung ini, Anda juga tidak perlu takut kegerahan, karena sudah dilengkapi penyejuk ruangan alias AC.

Telah lama pertunjukan wayang orang ini menjadi agenda rutin komplek THR Solo. Wayang orang Sriwedari pernah mengalami masa jaya pada sekitar tahun 70-an. Namun sekarang jumlah pengunjung tinggal dapat dihitung dengan jari, meski begitu hal tersebut tidak menyurutkan semangat para seniman wayang orang tersebut untuk total memainkan perannya. Totalitas disini dapat kita lihat dari tata panggung, tata lampu, kostum, serta akting para pemain yang terlihat bagus dan tertata dengan rapi.

Jadi bagi anda yang sedang merencanakan atau malah sudah berada di kota Solo, segera saja masukkan pertunjukan Wayang Orang Sriwedari dalam daftar tempat yang harus anda kunjungi. Mari kita lestarikan kebudayaan kita sendiri sebelum dilakukan oleh orang lain.

Teks & Foto : Sigit Nugroho

Sepinya penonton tidak menyurutkan para pemain untuk berkesenian


Akting yang total dari para pemain disetiap pementasan


Wednesday, June 11, 2008 |